Sabtu, 22 Agustus 2015

Pulau Sampah di Maladewa

     Laut tak lagi membiru. Bau busuk menyengat hidung. Kepulan asap tak pernah hilang. Itulah yang terjadi di Pulau Thilafushi, pulau buatan yang mendapat julukan Rubbish Island alias Pulau sampah.

      
     Pulau Thilafushi masuk wilayah Republik Maladewa. Awalnya adalah sebuah laguna bernama Thilafalhu. Sekitar tahun 1992, laguna dibangun untuk membuang sampah. Sampah dilapis pasir dan tanah supaya padat, juga ditaburi pasir putih agar terlihat indah.

     Lama-kelamaan, sampah mulai menggunung. Sampah terbanyak berasal dari hotel-hotel mewah di Maladewa yang diangkut dengan perahu khusus. Sebagian sampah dibakar dan ditimbun. Sekitar 330 ton sampah dibakar setiap hari. Sampah plastik dan logam didaur ulang. Janji pemerintah untuk membangun fasilitas bahan bakar bio belum terwujud.
 
     Kini, area timbunan sampah melebar hingga 50 hektar. Untuk membuang sampah di Thilafushi, harus mengantri berjam-jam. Banyak pekerja tidak sabar, lalu membuang sampah di laguna sekelilingnya. Kotoran pun menyebar. Kandungan racun dari sampah ini berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya.

     Selain sampah, di Thilafushi juga ada tempat reparasi perahu dan pabrik-pablik pengolahan sampah. lebih dari 150 imigran dari Bangladesh tinggal di sana. Mereka bekerja, termasuk mencari barang-barang bekas yang masih dapat dipakai atau didaur ulang.


Sumber : Majalah Bobo tahun XL nomor 32.


   

     

Kamis, 20 Agustus 2015

Intip-intip Masjid Raya Bandung

     
 Intip-intip Masjid Raya Bandung

     Dari jauh, menara Masjid Raya Bandung tampak menjulang tinggi. Masjid yang letaknya di alun-alun Kota Bandung ini, sekarang semakin ramai dengan pengunjung...

    
       Lapangan Rumput Hijau
 
     Pengunjung yang ramai datang ke Masjid Raya Bandung ini, tak hanya dari Bandung. Ada apa, ya disana? Mengapa pengunjungnya bertambah ramai?

     Rupanya, belum lama ini,  alun-alun Kota Bandung sudah mempercantik diri. ;Lapangannya kini dilapisi rumput sintetis. Di sekeliling lapangan, terdapat taman bunga berwarna-warni. Ada juga arena bermain untuk anak-anak.

     Alun-alun baru ini membuat pengunjung betah berlama-lama di sana. Tak hanya anak-anak yang senang bermain di lapangan rumput sintetis itu. Banyak juga orang dewasa yang membuat kegiatan di sana. Untuk menjaga kebersihan, para pengunjung dilarang mengenakan alas kaki di area rumput sintetis.

     Pada waktu salat, merekayang sedang berada di alun-alun biasanya akan salat di Masjid Raya. Masjid ini bisa menampung 14.000 sampai 15.000 jamaah.

     Kegiatan Masjid

     Masjid Raya ini didirikan tahun 1812 oleh Bapak Wiranatakusumah, Bupati Bandung saat itu. Sejak dulu, masjid yang terletak di tengah alun-alun Bandung ini, selalu ramai dikunjungi jamaah yang hendak beribadah. Setiap hari, ada kegiatan rutin yang diadakan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di sana seperti ceramah dan pengajian.

     Untuk menyambut bulan suci Ramadhan, kegiatan di Majid ini akan bertambah. Setiap hari akan diadakan ceramah Subuh, buka bersama, dan Salat Tarawih. Selain itu, ada juga kegiatan pesantren kilat untuk remaja. Biasanya pesertanya dikirim dari berbagai sekolah di Bandung da sekitarnya. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, DKM akan menyalurkan zakat untuk mereka yang membutuhkan. Setiap tahunnya, tak kurang dari 3.000 orang yang menerima zakat di sini.
 
     Menara Kembar

     Di sisi kanan dan kiri masjid ini, terdapat menara kembar, yaitu menara utara dan menara selatan. Pengunjung atau para jamaah boleh naik ke menara itu. Di kedua menara tersedia lift untuk naik ke puncak menara. Dari puncak menara setinggi kurang lebih 81 meter ini,kita bisa melihat pemandangan Kota Bandung.

     Lift menara utara hanya dibuka setiap hari Sabtu dan Minggu. Namun, lift menara selatan buka setiap hari. Untuk naik ke menara anak-anak dikenakan biaya Rp 3.000,00 dan orang dewasa Rp 4.000,00










Sumber : Majalah Bobo tahun XLIII nomor 13 (dengan sedikit pengubahan)